Memulai Skripsi Psikologi

Ketika saya melakukan riset kecil-kecilan di mesin pencari, saya mengetik dua kata kunci sederhana dengan format pdf: “skripsi” dan “stres”. Rupanya saya menemukan banyak sekali judul skripsi dengan dua kata itu:

  1. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Stres pada Mahasiswa yang Sedang Menyelesaikan Skripsi
  2. Perbedaan Tingkat Stres antara Mahasiswa Berkepribadian Extrovert dan Introvert dalam Mengerjakan Skripsi
  3. Perbedaan Stres Menghadapi Ujian Skripsi pada Mahasiswa Ditinjau dari Coping yang Digunakan
  4. Hubungan antara Optimisme dengan Coping Stres Mahasiswa Tingkat Akhir yang Bekerja Part Time dalam Menghadapi Skripsi
  5. Hubungan Tingkat Stres dengan Gangguan Tidur pada Mahasiswa Skripsi

…  dan masih banyak lagi

Apa artinya? Ya, kedua kata kunci menjadi topik menarik untuk dijadikan judul. Namun, ada makna yang lebih dalam daripada sekadar melihat judul-judul tersebut. Bisa jadi, “stres” dan “skripsi” telah ditekan, ditolak, dan dialihkan mahasiswa tingkat akhir sedemikian rupa sehingga membuatnya melampiaskannya menjadi judul skripsi. Unik, tapi semua mahasiswa mengalaminya, dalam bentuk yang berbeda-beda. Sigmund Freud menamakan ini sebagai mekanisme pertahanan diri. Thus, kesimpulan prematur dari riset kecil ini adalah, “skripsi” membuat “stres” 🙂 Atas dasar inilah saya berbagi cerita untuk adik-adik saya.

Lebih baik skripsi yang “cepat” atau skripsi yang “berkualitas”? Pertanyaan ini favorit, mengingat skripsi sering dijadikan masterpiece dari studi empat tahun menempuh sarjana. Jawabannya adalah dua-duanya, cepat dan berkualitas. Pertama-tama, ada tiga penentu dalam skripsi: mahasiswa, dosen pembimbing, dan sistem akademik. Faktor yang paling bisa diutak-atik adalah faktor pertama, yang akan menjadi bahasan terpanjang dalam tulisan ini. Untuk faktor dosen pembimbing, silahkan pilih dosen pembimbing yang tepat, baik dalam hal “cepat” maupun “berkualitas”. Namun, yang lebih penting adalah yang kedua. Karena selisih “cepat” dan “berkualitas“ hanya terpaut beberapa bulan, sedangkan manfaatnya abadi dalam bentuk skripsi. Seorang dosen pembimbing akan memberi arahan yang tepat untuk skripsimu. Beliau juga akan menjadi orang pertama tempat bersandar atas kesulitan skripsimu. Selanjutnya, sistem akademik, silahkan manfaatkan celah-celah yang diperbolehkan. Jangan lupa juga untuk memiliki contoh file skripsi yang paling mirip sebagai panduan praktis. Target kapan lulus juga penting agar tidak terjebak dalam berlimpahnya waktu luang mahasiswa tingkat akhir.

Well, selesai waktunya pemanasan. Mari kita fokus pada teknis skripsi, teknis yang hanya bisa diutak-atik oleh faktor pertama di atas: mahasiswa. Saya berusaha menjabarkannya dalam poin-poin.

A. Topik dan Judul

  1. Pilih dan bertahanlah pada satu topik yang kita minati, dan biarkan judul mengikutinya. Pilihlah judul yang memiliki kontribusi teoretis, karena ini penting untuk bobot skripsimu dan bobotmu sebagai seorang sarjana. Kontribusi praktis itu nanti saja, itu bisa mengikuti kontribusi teoretis.
  2. Jika topik ditolak mentah-mentah, berikan penjelasan pada dosen pembimbingmu bahwa pondasi rumah hanya harus dibangun dengan pasir, semen, dan bata. Perihal variasi lain itu selera masing-masing orang. This means that method is general, but topic is personal.
  3. Lebih dari 50% bagian penelitian adalah membaca. Percayalah, dengan membaca maka dasar dari penelitian akan mudah ditemukan.
  4. Menemukan rumusan masalah yang baik dimuai dengan mengajukan kandidat pertanyaan sebanyak mungkin. Dari situ, kita pilih satu, dua, atau tiga yang terbaik.
  5. Sebelum mengajukan judul, kuasai metode penelitian: desain, analisis (effect size, sample size, confidence interval), dan psikometri. Bukan rumusnya, cukup konsepnya saja.

B. Pendahuluan

Khususnya latar belakang, layani pembaca dengan story-telling yang persuasif dan argumentatif. Berikut kurang lebih (kurang lebih saja) kerangka yang bisa kita gunakan.

  1. Masalah utama
  2. Solusi selama ini
  3. Kesenjangan antara poin 1 dengan 2
  4. Urgensi (keutamaan, kenapa tidak yang lain)
  5. Penelitian atau solusi yang diajukan
  6. Masa depan yang bisa dicapai
  7. Bermodal referensi

C. Kajian Pustaka

  1. Pustaka harus berisi kajian kritis, bukan kumpulan teori. Bahas variabel sampai tingkat paling dasar: filosofis, neurosains, komparatif/evolusioner, dan celah-celahnya.
  2. Pustaka berbasis meta-analysis (kumpulan penelitian sejenis) atau review harus diprioritaskan ketimbang single study.
  3. Jangan berkacamata kuda dalam memandang hipotesis. Ajukan hipotesis tandingan dan bahasannya. Berjaga-jaga ketika hasil penelitian berbeda dari harapan itu penting.

D. Metode Penelitian

  1. Jelaskan metode yang digunakan saja beserta justifikasinya, tidak perlu menjelaskan bermacam-macam metode lain. Kembali, bobot skripsi jauh lebih penting daripada berat skripsi.
  2. Persiapkan pengambilan data dengan uji coba yang serius. Jangan sampai kita menyesal di akhir.

E. Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan dan Saran

  1. Sebelum analisis, pahami benar-benar bahwa metode lebih penting daripada hasil. Data apapun yang muncul, selama metodenya terkontrol (tidak melakukan fabrikasi dan falsifikasi data), maka ia jujur. Kejujuran ilmiah inilah yang patut dijunjung tinggi, bukan sekadar signifikansi data.
  2. Meskipun sudah hampir ujian skripsi, tetap jangan terburu-buru di bab ini. Jika bab-bab sebelumnya membahas penelitian terdahulu, bab ini membahas penelitian kita dan penelitian ke depan. Lakukan evaluasi dengan serius. Inginkah kita melihat peneliti selanjutnya yang tertarik dengan topik kita melakukan kesalahan yang sama dan usaha yang sia-sia hanya karena kita tidak serius melakukan evaluasi?
  3. Lakukan pembahasan kritis. Adakah spekulasi empiris dari hasil yang didapatkan? Adakah konklusi pola dari hasil yang didapatkan, dan dari kaitan hasil yang didapatkan dengan pustaka?
  4. Perbanyak peluang untuk penelitian selanjutnya. Apa saran dari spekulasi empiris yang ada? Apa keunggulan dan kelemahan penelitian? Apa saran metodologis yang spesifik untuk penelitian ke depan?

F. Seminar Proposal dan Ujian Komprehensif

Presentasi usahakan seringkas-ringkasnya. Jika bisa 10 menit, jangan 15 menit. Jika bisa 5 menit, jangan 10 menit. Ini menunjukkan seberapa paham kita dengan gambaran penelitian kita. Selain itu, penonton yang ingin memberikan feedback akan lupa atau jenuh terlebih dahulu jika presentasi terlalu lama.

  1. Gabung sub bab yang bisa digabung: Latar Belakang digabung Kajian Pustaka (sementara Kajian Pustaka dibuat seringkas Definisi Operasional), Hasil digabung Pembahasan.
  2. Tidak perlu menjelaskan yang tidak perlu dijelaskan: Tujuan, Manfaat, Kekhasan Penelitian, detail-detail redundant pada Metode Penelitian, Kesimpulan, Saran.

G. Penelusuran Referensi

Penelitian yang berkualitas tidak mungkin menafikan referensi yang berkualitas. Berikut cara-cara menelusuri yang direkomendasikan.

  1. Melalui google.com atau scholar.google.com. Optimalkan fitur pencarian dengan membaca trik-trik googling.
  2. Melalui situs-situs lain. Berikut beberapa situs yang saya rekomendasikan (ingat, rekomendasi tiap orang berbeda-beda).

    Rekomendasi Primer

    • scopus.com (bisa diakses oleh kampus yang melanggan, jika kampus tidak melanggan maka pinjamlah punya teman)
    • sci-hub.org (masukkan link-nya)
    • new-eresources.pnri.go.id
    • en.bookfi.org
    • researchgate.net
    • Indonesia Collaborative Research Forum (group FB)

    Rekomendasi Sekunder

    • libgen.org
    • doaj.org
    • bookzz.org
    • ebscohost.com
    • mendeley.com
  3. Melalui daftar pustaka dari referensi yang bersangkutan
  4. Melalui artikel meta-analysis atau review. Artikel jenis ini memuat kutipan-kutipan artikel sejnis yang bisa dipilih melalui daftar pustaka.
  5. Meminta ke peneliti yang bersangkutan. Hubungi peneliti melalui e-mail, mobile phone, media sosial, atau googling.

Jika sudah memahami teknis-teknisnya, kemampuan menulis jangan diabaikan. Karena sebagus apapun penelitiannya, kemampuan menulis yang buruk memberi kesan bahwa penelitian kita juga buruk. Tips berurutan ini mungkin bermanfaat untuk membuat tulisan yang padat dan beralur: konsepkan ide-ide pokok, copy-paste kutipan-kutipan penting, rangkai kalimat secara spontan, rapikan kalimat. Gunakan juga kaidah bahasa yang benar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (atau download aplikasinya). Terakhir, alokasikan waktu yang tepat untuk mengerjakan skripsi. Waktu paling produktif sesuai pengalaman saya adalah pukul 02.00-10.00.

Sekian evaluasi yang telah saya pelajari selama mengerjakan skripsi. Ada pertanyaan atau bagian yang tidak disetujui? Mari kita diskusikan. Jangan lupa juga untuk mengevaluasi skripsimu setelah jadi, agar skripsi-skripsi yang lahir setelahnya lebih berkualitas. 🙂

Mohammad Auzan Apta Widagdo

Malang, 10 Desember 2014

Advertisements